Dislipidemia: Gejala, Penyebab, Komplikasi dan Pengobatan

Selain kadar gula yang tinggi, lemak tubuh bisa meningkat atau berada di bawah normal. Ini dikenal sebagai dislipidemia.

Lemak abnormal dalam darah dapat menyebabkan beberapa penyakit serius. Serangan jantung merupakan kondisi yang perlu dikhawatirkan saat mengalami dislipidemia.

Untuk menghindarinya, yuk cari tahu berbagai informasi penting terkait hal ini, Sobat.

Kadar Kolesterol dan Lemak Tubuh Normal

Baik orang dewasa maupun anak-anak memiliki risiko yang sama tinggi untuk mengalami dislipidemia.

Jaringan Kesehatan Hormon menyatakan bahwa dislipidemia adalah tingkat kolesterol dan lemak lain yang tidak normal dalam tubuh.

Dikenal dengan istilah medis lipid, setiap orang tentunya akan memiliki kadar yang berbeda-beda di dalam darahnya. Lipid dalam kadar normal dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai hal, yaitu:

Secara umum lipid atau lemak dikatakan normal bila kadarnya sebagai berikut:

  • Kolesterol total: Di bawah 200 mg/dL
  • Kolesterol HDL: Pria di atas 40 mg/dL dan Wanita – di atas 50 mg/dL
  • Kolesterol LDL: Di bawah 100 mg/dL untuk normal dan di bawah 70 mg/dL untuk penderita diabetes atau penyakit jantung
  • Trigliserida: Di bawah 150 mg/dL

Berbeda halnya ketika seseorang memiliki kolesterol tinggi atau dislipidemia, gejalanya adalah:

  • Tingginya kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL).
  • Kadar kolesterol lipoprotein densitas tinggi (HDL) rendah
  • Trigliserida tinggi
Lihat juga:  Cara Memutihkan Gigi Kuning Secara Alami Dan Cepat

Gejala Dislipidemia

Ilustrasi hati

Ketika kadar kolesterol atau lemak LDL tinggi, hal ini dapat memicu terjadinya plak pada arteri yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Seiring waktu, plak mempersempit arteri, menyebabkan aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah).

Hal ini dapat menyebabkan penyakit jantung, serangan jantung, penyakit arteri perifer atau stroke.

Gejala umum dari kondisi dislipidemia ini meliputi:

Gejala-gejala ini dapat memburuk dengan aktivitas atau stres yang tidak dikelola dengan baik.

Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas, terutama nyeri dada, Sobat.

Penyebab Dislipidemia

Ilustrasi Dislipidemia

Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang mengalami dislipidemia.

menurut dr. Oryza Gryagus Prabu, Sp. PD, Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, kondisi ini disebabkan oleh produksi lipid yang berlebihan.

Dislipidemia dapat disebabkan oleh produksi lipid yang berlebihan dalam tubuh (kolesterol atau trigliserida).

Hal ini diawali dengan peningkatan asam lemak dalam plasma darah yang dipicu oleh konsumsi lemak berlebihan, faktor genetik, dan faktor lingkungan lainnya.

Dislipidemia pada penderita obesitas atau diabetes melitus biasanya disebabkan oleh faktor resistensi insulin,” kata dr Oryza.

Nah, berikut beberapa penyebab dislipidemia lainnya.

1. Obesitas

Penelitian yang dilakukan oleh Nutrient menjelaskan bahwa obesitas merupakan faktor utama terjadinya dislipidemia.

Kelebihan berat badan bisa dialami oleh pria atau wanita.

Obesitas bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari riwayat keluarga, makan berlebihan, dan kurang olahraga.

Lihat juga:  Cara Mengobati Bisul Pada Penderita Diabetes

Peningkatan lemak berlebih dalam tubuh ini dapat memengaruhi cara kerja jantung.

2. Diabetes

Periksa Gula Darah

Tak hanya itu, penderita diabetes juga bisa menjadi penyebab seseorang menderita dislipidemia.

Kadar kolesterol dan lemak yang tinggi sering dijumpai pada penderita diabetes.

Jika tidak segera ditangani, Anda bisa berisiko terkena penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung atau stroke.

3. Hipotiroidisme

Beberapa ahli telah menemukan bahwa hipotiroidisme dapat memicu peningkatan jumlah dan kadar kolesterol LDL.

Kondisi hormon tiroid yang rendah ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Menurut Layanan Kesehatan Nasional, gejala yang terlihat adalah:

  • Tubuh mudah lelah
  • Sensitif terhadap suhu dingin
  • Kegemukan
  • Sembelit
  • Depresi
  • Kram otot

Umumnya, penderita hipotiroid harus menghindari makanan olahan dan suplemen seperti selenium dan seng.

4. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Ilustrasi PCOS

Dislipidemia adalah gangguan metabolisme yang sangat umum pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Studi lain menunjukkan bahwa orang dengan PCOS memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kadar lemak abnormal.

Melansir Very Well Health, bahkan diperkirakan hingga 70% wanita dislipidemia mengalami peningkatan kolesterol dan lemak.

Hal ini juga berisiko mengganggu kesehatan reproduksi wanita.

5. Keluarga Genetik

Beberapa ahli juga percaya bahwa genetika keluarga adalah penyebab dislipidemia selanjutnya.

Jika ada anggota keluarga yang memiliki kolesterol atau lemak tinggi, maka risiko anak untuk mengidapnya juga tinggi.

Untuk mencegah hal ini terjadi, Anda bisa rajin berolahraga dan mengonsumsi makanan rendah lemak.

6. Sindrom metabolik

Sindrom metabolik adalah sekelompok gangguan kesehatan yang terjadi secara bersamaan. Gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut:

  • Peningkatan tekanan darah
  • Gula darah tinggi
  • Lemak tubuh bertambah
  • Kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak normal
Lihat juga:  Cara Membuat Surat Pengalaman Kerja

Sebab, hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

7. Efek Samping Obat

The Mayo Clinic menjelaskan bahwa ada beberapa obat yang dapat memicu dislipidemia.

Ini termasuk obat antihipertensi seperti diuretik thiazide dan penghambat beta-adrenergik nonspesifik.

Berbagai hormon steroid termasuk glukokortikoid, estrogen, androgen, dan senyawa lainnya juga memiliki efek samping yang serupa.

Komplikasi Dislipidemia Pada Tubuh

Ilustrasi Dislipidemia

Dislipidemia dapat memicu pembentukan plak pada dinding arteri. Dinding arteri adalah pembuluh yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Dalam jangka panjang, plak yang terus menumpuk dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.

“Komplikasi dislipidemia adalah penyakit kardio-serebrovaskular seperti penyakit jantung koroner dan stroke.

Selain itu, dislipidemia juga menjadi faktor risiko terbentuknya batu di kantong empedu.

Tingkat trigliserida yang sangat tinggi (lebih dari 500) juga dapat menyebabkan pankreatitis,” kata Dr Oryza.

Kondisi ini dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit, seperti:

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dislipidemia cukup berbahaya dan tidak boleh dianggap enteng.

Hal ini juga bisa dialami oleh anak dan memperparah berbagai penyakit kardiovaskular di kemudian hari, Sobat.

Cara Mengobati Dislipidemia

Ilustrasi Kadar Kolesterol

Jangan panik, Sobat! Penyakit ini dapat diatasi dengan menerapkan pola hidup sehat, yang meliputi:

1. Asupan Makanan Berlemak Sehat

Selain karena faktor keturunan, dislipidemia juga bisa terjadi secara perlahan jika Anda rutin mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

Lihat juga:  Cara Mengobati Cirik Barandang

Salah satunya karena banyak mengonsumsi makanan berlemak tinggi.

Untuk menghindarinya, cobalah makan makanan dengan lemak sehat seperti:

Almond dipercaya cukup baik untuk dimakan sepanjang hari.

2. Rutin Berolahraga

Masih terlalu malas untuk bergerak atau berolahraga? Hal ini bisa meningkatkan risiko serangan jantung, Sobat.

Yuk atasi dislipidemia dengan rajin berolahraga, minimal 30 menit setiap hari.

Anda bisa memulainya dengan olahraga ringan seperti jalan kaki atau bersepeda.

3. Minum Air Putih

Kabar baiknya, dislipidemia dapat dicegah dan diredakan dengan mengonsumsi cairan yang cukup.

Perbanyak minum air putih untuk menjaga kadar kolesterol dan lemak dalam tubuh tetap stabil.

Hindari minum minuman dan kemasan tinggi gula untuk menjaga kadar gula Anda tetap terkendali.

4. Perbaikan Gaya Hidup

Penatalaksanaan dislipidemia dilakukan melalui intervensi gaya hidup.

Penderita dislipidemia harus mengonsumsi makanan rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, biji-bijian, ikan, dan daging tanpa lemak.

Asupan lemak jenuh, lemak trans dan kolesterol harus dibatasi.

“Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan 30 menit sehari dengan intensitas sedang, yaitu 4-6 kali seminggu. Orang dengan dislipidemia juga harus berhenti merokok.

Selain intervensi gaya hidup, penatalaksanaan juga dapat dilakukan melalui terapi obat penurun kolesterol.

Penyakit penyerta lainnya juga perlu dikelola dengan baik sehingga terjadi penanganan yang komprehensif pada setiap pasien,” ujar dr Oryza.

Pencegahan Dislipidemia

Ilustrasi olahraga

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, Sobat.

Jika salah satu penanganan dislipidemia adalah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, tentu cara mencegah kondisi ini juga harus dengan menerapkan gaya hidup sehat.

Lihat juga:  Cara Menghilangkan Bopeng Di Pipi Secara Alami

Untuk menghindari masalah kesehatan ini, ibu perlu menjaga berat badan yang sehat dengan mengikuti pola makan yang sehat atau bila perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai pola makan yang benar.

Olahraga teratur juga dapat mengurangi risiko penyakit ini. Bagi yang merokok, tentunya harus berhenti merokok.

Jadi, terutama bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi, ada baiknya jika Anda aktif memeriksakan diri ke dokter minimal 6 bulan sekali.

Tingkat Bahaya Dislipidemia

menurut dr. Oryza, dislipidemia diketahui dapat menyebabkan proses aterosklerosis atau penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah.

Plak ini dapat menumpuk di arteri jantung, leher, dan otak. Ini berbahaya karena dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Selain itu, pertumbuhan plak ini juga dapat terjadi pada pembuluh darah lain seperti ginjal dan tungkai bawah yang dapat menimbulkan gangguan pada organ tersebut.

Jadi, situasi ini bisa berbahaya dan tidak boleh dianggap enteng, Sobat.

Ilustrasi Dislipidemia

Etiologi dislipidemia terbagi menjadi 2 yaitu primer dan sekunder. Dislipidemia primer terjadi karena mutasi genetik tunggal atau ganda yang biasanya terjadi pada anak-anak.

Sedangkan dislipidemia sekunder, berasal dari rangkaian gaya hidup, penyakit, dan obat-obatan.

“Beberapa penyebab dislipidemia adalah konsumsi makanan tinggi lemak terutama lemak trans, kurang aktivitas fisik, obesitas, diabetes melitus, dan merokok,” kata dr. Oryza.

Lalu, ada kondisi penyakit tertentu yang juga bisa menyebabkan dislipidemia, seperti:

Selain itu, dislipidemia juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, seperti pada kasus hiperkolesterolemia familial atau penyakit kolesterol herediter.

Setelah membaca penjelasan di atas, apakah Anda setuju bahwa dislipidemia dapat dicegah dengan pola hidup sehat?

Yuk, mulai pola hidup sehat untuk menghindari risiko serangan jantung!