Mari Mengajarkan Hukum Puasa Ramadhan dan Kondisinya Kepada Si Kecil!

Berkenalan dengan hukum puasa Ramadhan dan kondisinya bisa menjadi pengalaman baru dan menyenangkan bagi si kecil. Saat menjalankan ibadah puasa, ada beberapa aturan dan ketentuan yang perlu diperhatikan. Mulai dari siapa saja yang diwajibkan berpuasa, apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan saat berpuasa, hingga kondisi khusus yang memperbolehkan seseorang tidak berpuasa. Mari ajarkan kepada si kecil agar puasa Ramadhan menjadi lebih bermakna dan penuh pengertian.

Hukum puasa Ramadhan memang harus diketahui oleh umat Islam

Dalam Islam, puasa merupakan salah satu rukun Islam. Selain efektif selama Ramadhan, ada beberapa puasa Sunnah lainnya.

Sebagai penegasan, Islam juga menghapuskan hukum puasa Ramadhan.

Puasa, yang disebut shaum dalam Islam, adalah salah satu bentuk ibadah yang dicontohkan oleh nabi SAW.

Shaum atau puasa menjauhkan diri dari dua selendang di perut dan alat kelamin, serta segala sesuatu yang masuk ke tenggorokan dari fajar hingga matahari terbenam.

Allah (swt) berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan (awal) di mana Al-Quran diturunkan sebagai panduan bagi manusia, adalah penjelasan tentang tuntunan dan perbedaannya (antara hak dan kesia-siaan).

“Oleh karena itu, hendaklah barangsiapa di antara kalian yang berada di bulan itu (di negeri tempat tinggalnya) berpuasa selama bulan itu.”

“Dan barangsiapa sakit atau sedang dalam perjalanan (dan berbuka puasa), maka (wajib baginya untuk berpuasa), sebanyak-banyaknya hari yang telah ditinggalkannya, pada hari-hari lain: Allah menghendaki istirahat bagimu, dan bukan masalah bagimu.”

“Dan akan memiliki jumlah yang cukup, dan memuliakan kepada Allah ajaran-ajaran Allah yang telah diberikan kepadamu, dan kamu akan mengucap syukur; (QS Albacarat: 185).

Selain mendapatkan pahala, puasa juga bermanfaat bagi seseorang.

Dalam hal ini, Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics menyatakan bahwa puasa Ramadhan dikaitkan dengan perubahan signifikan dalam komposisi tubuh, asupan makanan, dan pola tidur, yang merupakan tanda-tanda positif dari sudut pandang kesehatan.

Yuk, simak ulasan kami tentang metode puasa Ramadhan selengkapnya di bawah ini.

Puasa Ramadhan

Dalam menerapkan aturan tersebut, tentunya ada hukum yang mendasari semua ibadah yang terjadi dalam Islam. Dilihat oleh hukum, puasa secara umum dapat dibagi menjadi empat jenis:

  • puasa paksa, Puasa Ramadhan, puasa Kifara, puasa Kadra, puasa sumpah, dll.
  • Puasa Sunni, Puasa enam hari Showar, puasa Arafat, puasa Tasua dan Asyura, puasa Ayamurbid, puasa Senin-Kamis, puasa David, dll.
  • Puasa Makuru, Mendedikasikan bulan Rajab untuk berpuasa, mendedikasikan hari Jumat untuk berpuasa, dll.
  • Haram puasa, Seperti puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta puasa di hari Tassilik.

Mengenai hukum puasa Ramadhan khususnya, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang yang beriman, kami berkewajiban untuk berpuasa, sebagaimana kami diperintahkan untuk menjadi saleh, sebagaimana kami dituntut dari mereka yang ada di hadapanmu. (QS Albacarat:183).

Hal ini juga dapat dilihat dalam isu Badui Arab kepada Nabi (damai besertanya).

Badui ini datang kepada Nabi (damai besertanya) dengan rambut matte, dan dia berkata kepadanya: “Ceritakan tentang puasa yang dituntut Allah dariku.”

Kemudian Rasulullah (saw) bersabda:

“[Puasa wajib bagimu]adalah puasa Ramadhan, jika kamu ingin berpuasa Sunnah (dan melakukannya)” (HR Buhari).

Cara puasa Ramadhan ini tidak berlaku bagi orang yang terbebani syariah kecuali mereka memiliki uzur (gangguan). Di antara quazur ini adalah mereka yang melakukan perjalanan jarak jauh (Safar), orang sakit, orang tua (di usia tua), terutama wanita menstruasi, nifas, hamil dan menyusui.

Syarat dan ketentuan puasa

 

Selain metode puasa Ramadhan, ada juga persyaratan puasa wajib. Dikutip NU Online, syarat wajib puasa merupakan syarat yang harus dipenuhi seseorang sebelum berpuasa.

Mereka yang tidak memenuhi persyaratan ini tidak diwajibkan untuk menjalankan puasa.

Adapun syarat bagi yang wajib berpuasa, khususnya puasa Ramadhan, adalah sebagai berikut:

1. Muslim atau Muslim

Undang-undang puasa Ramadhan adalah wajib bagi Muslim dan wanita Muslim. Karena puasa adalah ibadah wajib atau rukun Islam, hanya umat Islam yang diberi pahala karena mematuhinya dan berdosa jika ditinggalkan.

Karena hukum puasa Ramadhan adalah wajib, semua Muslim wajib mematuhinya, kecuali ada udzur tertentu.

Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tulumji dan Imam Muslim yang mengatakan:

“Dari Abi Abdulrahman, atau Abdullah ibn Umar ibn Khattab (r.a.), ia berkata, “Aku mendengar Nabi (saw): ‘Islam memiliki lima hal, yaitu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulnya, dan pembentukan doa, penerbitan zakat, pekerjaan haji di Baitulla (Ka’bah), dan puasa Ramadhan.'” (HR Bukhari Muslim).

2. Sudah pubertas

Metode puasa Ramadhan wajib bagi mereka yang telah mencapai pubertas. Ini adalah syarat kedua bagi seseorang untuk wajib menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Ketentuan pubertas terutama untuk wanita yang telah keluar dari alat kelaminnya, yang baik dalam keadaan tidur atau terjaga, dan terutama untuk menstruasi.

Dan persyaratan untuk keluarnya air mani dan menstruasi dengan batas usia minimum 9 tahun. Dan bagi mereka yang tidak memiliki air mani atau menstruasi, minimum bagi mereka yang dikatakan pubertas adalah orang yang berusia 15 tahun.

Kondisi ketentuan Balig ini menegaskan bahwa puasa Ramadhan tidak wajib bagi anak-anak yang tidak memenuhi karakteristik remaja tersebut.

3. Memiliki indera yang sempurna

Hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi orang-orang dengan alasan yang sempurna.

Kondisi ketiga ini menyiratkan kondisi seseorang yang normal, memiliki pikiran yang sempurna, gila karena gangguan mental, atau kehilangan akal sehatnya karena mabuk.

Seseorang yang tidak sadarkan diri karena mabuk atau gangguan mental tidak wajib berpuasa.

Kecuali bagi mereka yang sengaja mabuk, mereka wajib berpuasa di masa depan atau menggantikan hari-hari selain Ramadhan atau Kada, yang tentu saja dicatat sebagai dosa.

Penjelasan tentang mabuk juga mengikuti dari salah satu hadits Nabi SAW.

“Ketiga golongan tersebut tidak tunduk pada hukum Syariah. Mereka yang tidur ketika mereka bangun, mereka yang gila sampai mereka sembuh, mereka yang masih anak-anak sampai mereka mencapai pubertas.” (Hadits Sahi, diriwayatkan oleh Abu Daoud: 3822, Ahmad: 910).

4. Tahan terhadap puasa

Hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi yang kuat untuk berpuasa.

Selain Islam, remaja dan kecerdasan, syarat lain dari puasa Ramadhan adalah seseorang harus mampu melakukan puasa dan kuat.

Jika anda tidak mampu membelinya, anda harus menggantinya pada bulan berikutnya atau membayar fidyah.

Misalnya ibu hamil, ibu haid, ibu pascapersalinan, orang tua yang sakit dan tidak bisa berpuasa.

Karena Islam sangat mudah dan lugas sehingga bahkan jika Anda tidak dapat berpuasa, Anda dapat yakin sampai Anda dapat berpuasa.

5. Ketahui awal Ramadhan

Hukum puasa Ramadhan adalah wajib bagi siapa saja yang mengetahui awal Ramadhan. Mengetahui awal Ramadhan dimaksudkan agar puasa Ramadhan diterima saat Ramadhan masuk saat itu.

Jika ada satu orang yang dapat diandalkan (adil) yang mengetahui awal Ramadhan dengan melihat langsung ke bulan dengan mata biasa tanpa alat, maka sebuah trik.

Dan karena kesaksian orang tersebut dapat dipercaya dengan terlebih dahulu mengambil sumpah, seorang Muslim yang berada di daerah yang sama dengannya berkewajiban untuk berpuasa.

Dan jika bulan tidak terlihat, misalnya, karena ketebalan awan, maka untuk menentukan awal Ramadhan dapat dilakukan dengan cara lain.

Yakni, dengan menyelesaikan perhitungan tanggal bulan Sha’ban sampai tanggal 30. Sebagai hadits Nabi Muhammad (SAW), diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

“Itu pecah dengan cepat dan cepat karena Anda dapat melihat bulan, dan jika bulan tertutup awan, kami akan menyelesaikan hitungan 30 hari dari bulan.” (H.R. Imam Buhari).

Ada juga hadits lain dari Ikrimah yang diperoleh dari Ibnu Abbas. Katanya:

“Seorang Badui dari orang Arab datang kepada Nabi (damai besertanya) dan dia berkata: ‘Sesungguhnya aku telah melihat Hiral,’ dan Nabi menjawab: ‘Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada Allah selain Allah’ (bersumpah?’

“Orang Arab Badui menjawab: Ya”. Kemudian Nabi bertanya lagi: “Apakah kalian bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah?” Dan orang-orang Arab Badui menjawab “ya.” “

Kemudian Rasulullah bersabda, “Bilal, dengarkanlah panggilan shalat dalam khalayak ramai dan perintahkanlah mereka untuk berpuasa keesokan harinya.” (5 Imam kecuali HR Ahmad).

Pilar Puasa

 

Selain metode puasa Ramadhan, ada juga pilar puasa, dan jika pilar ini tidak ada, puasa tidak sah. Pilar-pilar puasa Ramadhan adalah:

1. Niat

Metode wajib puasa Ramadhan tentu tidak lengkap jika tidak diikuti dengan sengaja. Niat adalah syarat berpuasa karena puasa adalah ibadah, tetapi ibadah tidak sah kecuali ada niat, seperti pada ibadah lainnya.

Inilah yang dikatakan Nabi SAW dari Umar bin Hasab(r).

“Memang, semua amal bergantung pada niat mereka” (H.R. Buhari dan Muslim).

Ada beberapa perbedaan antara niat ini dan akademisi. Menurut Mahdzab Shafe’i, Hanafi dan Hambali, niat untuk menjalankan puasa Ramadhan harus dilakukan setiap malam di bulan-bulan tersebut, mulai dari matahari terbenam hingga sebelum fajar.

Niat Rafaz untuk berpuasa Ramadhan adalah:

“Nawaitu Shoma Godin An Ada i Fardi Shari Romadokhuna Hajihisu Sanati Lilaahi Ta Aara”

Sarana: “Saya akan berpuasa besok untuk memenuhi kewajiban Ramadhan saya tahun ini untuk Allah SWT.”

Namun, Mahdzab Maliki menyatakan bahwa niat puasa Ramadhan hanya berlangsung sekali, yaitu pada malam pertama, yang diperuntukkan selama sebulan penuh. Adapun Rafazz, niatnya adalah:

“Nawaitu sauma shahri ramadana kullihi lillaahi ta’aalaa.”

Sarana: “Saya akan berpuasa di bulan Ramadhan ini untuk Allah SWT.”

2. Menahan diri

Wajib puasa Ramadhan tentu harus dilaksanakan dengan menahan diri. Ini termasuk makan, minum, melakukan hubungan seksual, atau aktivitas lain yang dapat membatalkan puasa Anda.

Dalam menjelaskan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Adalah sah bagimu untuk berbaur dengan istrimu pada malam bulan puasa.”

Allah mengampuni dan mengampuni Anda karena Dia tahu Anda tidak dapat menahan Anda.”

“Ayo, berbaur dengan mereka, dan mintalah apa yang telah Allah tetapkan untukmu: makan dan minum sampai benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, jelas.”

Kemudian selesaikan puasa sampai malam. Tetapi ketika Anda memberikan i’tikaf di masjid, jangan mengganggu mereka. Itu adalah larangan Tuhan, jadi menjauhlah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada orang-orang, karena mereka mungkin takut.” (Albacara: 187).

Selain itu, Anda harus menahan diri dari muntah yang disengaja.

Karena muntah yang disengaja dapat menyebabkan pembatalan puasa. Namun, karena sakit tidak sengaja muntah dan tidak membatalkan puasa. Dengan catatan, muntah tidak ditelan.

Karena metode puasa Ramadhan adalah wajib, umat Islam harus melakukannya tepat waktu dan memenuhi pilar dan syarat puasa untuk melaksanakan puasa dengan lancar.

#Berikut #hukum #puasa #Ramadhan #dan #kondisinya #yuk #ajarkan #kepada #kecil arbo Berikut hukum puasa Ramadhan dan kondisinya, yuk ajarkan kepada si kecil!