KUMPULAN TUGAS MAKALAH SEKOLAH DAN KULIAH: PERKEMBANGAN STILISTIKA

Di dalam ilmu bahasa dikenal
namanya Stilistika, Style
sebagai
sebuah hal yang memiliki banyak definisi yang berbeda dan tidak dapat hanya
diletakkan pada sebuah wilayah cakupan tertentu (spesifik) tentu secara cukup
gamblang memberikan pemahaman bahwa stilistika (yang terbangun atasnya)
berpotensi sangat besar untuk tidak hanya hadir dalam sebuah wilayah dan satu
definisi khusus, bahkan ketika ia dimasukkan dalam khasanah sastra yang
mengguunakan bahasa. 

Tugas Makalah

PERKEMBANGAN STILISTIKA

uho.jpg

KUMPULAN TUGAS MAKALAH SEKOLAH DAN KULIAH PERKEMBANGAN STILISTIKA

OLEH:

ISBUL ANSARI

N1A414003

FAKULTAS ILMU BUDAYA

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2015

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat membuat
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami
membahas mengenai “Perkembangan Stilistika”. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas yang telah diberikan oleh dosen pengampuh mata kuliah Stilistika, dimana dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah
ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca
untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Akhir kata
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan masyarakat pada
umumnya. 

Kendari, 13 September 2015

Penulis 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar
belakang

             Penelitian
karya sastra pada waktu sekarang banyak ditunjukan pada penerangan struktur
pencitraanya: tema, alur, penokohan, latar, dan pusat pengisahan. Akan tetapi,
pennelitian gaya bahasa yang merupakan salah satu sarana kasusastran yang sangat
penting, masih sangat sedikit. Gaya bahasa merupakan sarana sastra yang turut
menyumbangkan nilai kepuitisan atau estetik karya sastra, bahkan seringkali
nilai seni suatu karya sastra ditentukan oleh gaya bahasanya (Pradopo, 2000:
263).

             Sebagai
suatu sistem, sastra merupakan suatu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari
berbagai sisi. Diantaranya adalah sisi bahan. Ellis (dalam Jabrohim, 2001: 11)
mengemukakan tentang konsep sastra bahwa (teks) sastra tidak ditentukan oleh
bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu
oleh masyarakat. Ini menunjukan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengadung
fungsi yang lebih umum dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Lihat juga:  KUMPULAN TUGAS MAKALAH SEKOLAH DAN KULIAH: TOKOH SASTRA

             Di dalam ilmu bahasa dikenal namanya Stilistika, Style sebagai sebuah hal yang memiliki
banyak definisi yang berbeda dan tidak dapat hanya diletakkan pada sebuah
wilayah cakupan tertentu (spesifik) tentu secara cukup gamblang memberikan
pemahaman bahwa stilistika (yang terbangun atasnya) berpotensi sangat besar untuk
tidak hanya hadir dalam sebuah wilayah dan satu definisi khusus, bahkan ketika
ia dimasukkan dalam khasanah sastra yang mengguunakan bahasa. Stilistika verbal
yang dekat dengan kebahasaan juga oleh beberapa ahli mendapat definisi khusus
sebagai linguistic stylstics yang dicetuskan pertama kali oleh Firth
(1957), dan kemudian dilanjutkan oleh Halliday (1964).

             Oleh
karena itu, dalam makalah ini saya akan membahas tentang bagaimana hakikat
stilistika dan perkembangannya.

1.2.Rumusan masalah

1.      Apakah hakikat stilistika?

2.      Bagaimana
perkembangan stilistika?

1.3.Tujuan

1.      Untuk
mengetahui
hakikat stilistika?

2.      Untuk
mengetahui bagaimana
perkembangan stilistika

BAB II

PEMBAHASAN

A.   
Hakikat Stilistika

            Stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang
gaya, sedangkan stil (syle) secara umum sebagaimana akan dibicarakan secara
lebih luas pada bagian berikut adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala
sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, shingga tujuan yang dimaksudkan dapat
dicapai secara maksimal.

            Dalam hubungannya
dengan kedua istilah diatas perlu disebutkan istilah lain yang seolah-olah
memperoleh perhatian tetapi sesungguhnya dalam proses analisis memegng peranan
penting yaitu majas. Majas diterjemahkan dari kata trope (Yunani),

figure of speech (Inggris), berarti
persamaan atau kiasan. Jenis majas sangat banyak, seperti : Hiperbola,
Paradoks, sarkasme, inversi, dan sebagainya. Tetapi, pada umumnya dibedakan
menjadi empat kelompok, yaitu : Majas Penegasan, majas perbandingan,
pertentangan, dan majas sindiran. Majas inilah yang paling banyak dikenal, baik
dalam masyarakat pada umumnya maupun dalam bidang pendidikan.

B.     Perkembangan Stilistika

Perkembangan
stilistika di Indonesia sangat lambat bahkan hampir tidak mengalami kemajuan.
Penelitian tentang stilistika pada umumnya terbatas sebagai sub bagian dalam
sebuah buku teks atau dalam skripsi dan tesis. Kualitas penelitianpun terbatas
sebagai semata-mata deskripsi pemakaian bahasa yang khas, sebagai gaya bahasa.
Oleh karena itu sampai saat ini belum ada buku yang secara khusus membahas
stilistika. Sebagai contoh untuk menelusuri sejarah perkembangan stilistika di
Indonesia, maka dicoba menelusuri buku-buku yang dapat diimplikasikan baik
terhadap gaya bahasa maupun stilistika itu sendiri.

Lihat juga:  MAKALAH ANALISIS PSK DI KOTA KENDARI

Buku
pertama berkaitan dengan gaya bahasa ditulis oleh Slametmuljana. Meskipun tidak
secara eksplisit menyebutkan gaya bahasa dan stilistika, tetapi dikaitkan
dengan judulnya Peristiwa Bahasa dan Peristiwa Sastra (1956) dapatlah
disebutkan bahwa buku tersebut mengawali studi stilistika di Indonesia.
Sebagian besar pembicaraan yang dilakukan berkaitan dengan Bahasa Sastra,
khususnya puisi (yang disebut kata ‘berjiwa’), bahasa kontekstual, yang di
bedakan dengan bahasa kamus (bahasa dengan arti tetap), sebagai bahasa bebas
konteks. Menurut Slametmuljana, perkembangan mengenai kata-kata berjiwa inilah
yang disebut sebagai stilistika. Bahasa adalah alat untuk mewujudkan pengalaman
jiwa yaitu cita dan rasa ke dalam rangkaian bentuk kata yang tepat dan dengan
sendirinya sesuai tujuan pengarang. Teeuw dalam bukunya yang berjudul Tergantung pada Kata (1980) menganalisis
sepuluh puisi dari sepuluh penyair terkenal, sehingga dapat mewakili ciri-ciri
pemakaian bahasa pada masing-masing puisi sekaligus mewakili kekhasan
personalitas pengarangnya. Menurut Teeuw, melalui karya-karya Chairil Anwarlah
terjadi revolusi total dlam bahasa, dengan cara mendekonstruksi sistem sastra
lama yang didiominasi oleh berbagai ikatan, sehingga menjadi baru sama sekali.

Panuti
Sudjiman dalam bukunya yang berjudul Bunga
Rampai Stilistika (1993), secara jelas telah menyinggung makna stilistika
itu sendiri, yaitu mengkaji ciri khas penggunaan bahasa dalam wacana sastra.
Dengan singkat stilistika mengkaji fungsi puitika suatu bahasa. Sesuai dengan
judulnya, sebagai bunga rampai pembicaraan stilistika dibicarakan dalam empat
bab dari keseluruhan buku yang terdiri atas delapan bab. Menurut Sudjiman,
stilistika menjembatani analisis bahasa dan sastra.

Analisis
terhadap “gaya” atau “style” sastra telah mulai diterapkan
sejak tahun 1950-an. Sastra tidak lagi bicara kaidah tetapi lebih pada
perkembangan, khususnya pada gaya. Perbedaan dan perdebatan yang masih terjadi
mengenai apakah sebuah karya adalah bagian dari sastra atau bukan bisa jadi
bersumber dari perbedaan interpretasi masing-masing ahli sastra (baca; pembaca
karya sastra) terhadap sastra, sebuah hal yang merupakan salah satu hal
istimewa dari sebuah karya sastra sehingga definisi mengenai stilistika yang sesungguhnya
sebenarnya sama sekali belum terhenti pada konsep stilistika verbal seperti
pendapat Lecerle (1993) yang menganggap bahwa sebenarnya tidak ada seorang pun
(ahli sastra) yang benar-benar mengetahui maksud istilah stilistika. Style,
sebagai hal yang mendasari lahirnya teori stilistika sendiri hingga sekarang
pun belum selesai didefinisikan. Ackerman melalui McIntosh (1998: 221)
menyatakan, “Style” is a word that surfaces when we are talking
about different means to a single end. Style, like ‘character’, is a construct;
it has no “objective correlative” (McIntosh, 1998: 221).
Sementara Missikova (2003) menyebut bahwa meskipun istilah style sangat
banyak dipakai dalam kritik sastra oleh para ahli sastra, style sendiri
masih merupakan hal yang sulit didefinisikan.

Lihat juga:  “PENGERTIAN SEMIOTIKA MENURUT PARA AHLI”

Style
sebagai
sebuah hal yang memiliki banyak definisi yang berbeda dan tidak dapat hanya
diletakkan pada sebuah wilayah cakupan tertentu (spesifik) tentu secara cukup
gamblang memberikan pemahaman bahwa stilistika (yang terbangun atasnya) berpotensi
sangat besar untuk tidak hanya hadir dalam sebuah wilayah dan satu definisi
khusus, bahkan ketika ia dimasukkan dalam khasanah sastra yang mengguunakan
bahasa. Stilistika verbal yang dekat dengan kebahasaan juga oleh beberapa ahli
mendapat definisi khusus sebagai linguistic stylstics yang dicetuskan
pertama kali oleh Firth (1957), dan kemudian dilanjutkan oleh Halliday (1964).

Perkembangan
zaman yang begitu cepat karena adanya teknologi informasi seringkali menjadikan
karya sastra dan sastra jauh meninggalkan para analis dan kritikus sastra.
Perubahan dan perkembangan sastra yang sedemikian cepat seakan jauh
meninggalkan para ahli sastra untuk menganalisisnya. Ketika sebuah karya sastra
dengan genre atau bentuk atau jenis baru muncul, ahli sastra yang mendapatinya
akan mengemukakan sebuah gagasan (teori) untuk mewadahi bentuk baru yang belum
ada tersebut. Akan tetapi menciptakan sebuah teori tentu jauh lebih lama dan
rumit daripada sekedar menciptakan sebuah karya sastra jenis baru yang mungkin
dianggap menyimpang. Sehingga yang kemudian terjadi adalah ketika para ahli
sastra sedang merancang dan mendiskusikan sebuah teori baru untuk menaungi satu
karya sastra yang baru mereka temui, belasan, atau mungkin puluhan bentuk dan
jenis karya sastra baru sudah membanjiri masyarakat.

Sebelum
mengalami perkembangan dan perluasan seperti pada masa kini, stilistika sebagai
sebuah bagian dari linguistik telah disepakati memiliki kaitan yang sangat erat
dengan sastra. Sudjiman (1993: 3) menyebut bahwa sesungguhnya sumbangan
linguistik dalam kritik sastra ialah, misalnya, sorotan pada penggunaan bahasa
dan gaya bahasa sebagai unsur yang membangun karya sastra, pengunaan dialek dan
register tertentu. Pengetahuan linguistik, khususnya fonologi dan fonemik,
sangat bermanfaat dalam pengkajian puisi, yaitu dalam pautannya dengan metrik,
penyusunan struktur segmen bunyi dalam hubungannya dengan unit-unit bunyi pada
bahasa tertentu, atau derap dengan irama. Adapun pengetahuan linguistik yang
termasuk di dalamnya fonologi, dan fonemik, dan juga syntax, lexico-semantic,
adalah merupakan point utama dalam analisis stilistika sastra pada awal
kemunculannya.

Lihat juga:  MAKALAH PERKEMBANGAN SASTRA LISAN DI INDONESIA

Hal
ini tentu tidak lepas dari background tokoh-tokoh besar teori stilistika yang
merupakan para ahli kebahasaan seperti Jakobson (1896 – 1982), Halliday (1925 –
sekarang), dan Leech (1936 – sekarang). Halliday melalui Sudjiman (1993: 4)
mengatakan,

Linguistics is not and will never be
the whole of literary analysis, and only the literary analyst – not the
linguist – can determine the place of linguistics in literary studies. But if a
text is to be described at all, then it should be described properly; and this
means by the theories and methods developed in linguistics, the subject whose
task is precisely to show how language works (Sudjiman, 1993: 4)

Tujuan stilistika seringnya
diketahui sebagai landasan analisis terhadap karya sastra untuk memberikan dan
meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan unsur-unsur
penyusunnya yang difokuskan pada bahasa sehingga banyak ahli sastra
konvensional yang mengangap stilistika sebagai ilmu penggunaan bahasa dan gaya
bahasa dalam karya sastra. Pradopo (1996) misalnya menyebut bahwa menurut
Turner, stilistika merupakan bagian linguistik yang memusatkan diri pada
variasi penggunaan bahasa. Stilistika bararti studi gaya, yang menyarankan
suatu ilmu pengetahuan atau studi yang metodis. Stilistika berarti studi gaya
bahasa, cara bertutur secara tertentu untuk mendapatkan suatu efek tertentu.
Bally menyebut stilistika sebagai studi efek-efek ekspresif dan mekanisme dalam
semua bahasa (Pradopo, 1996).

Stilistika dalam sejarahnya mulai
bersumber semenjak zaman Yunani kuno yang dikenal dengan tiga konsep utama
nilai bahasa sastra yaitu Rhetoric, Poetics, dan Dialectics dengan salah satu
karya yang dijadikan gambaran mencolok dari salah satu di antara ketiga unsur
ini adalah karya Aristoteles (384 – 322 S.M) yang berjudul Poetics. Tiga
unsur bahasa dalam karya sastra itu lah yang kemudian menjadi awal kelahiran
kritik sastra. Sekitar 300 tahun kemudian di Roma dua style yang berbeda
dikemukakan oleh Caesar dan Cicero sebagai perkembangan awal stilistika.
Stilistika berkembang pada zaman pertengahan dengan dua konsep utama yang
dikenal dengan Form (bentuk) dan Content (Isi) dan terus berlanjut pada zaman
selanjutnya dengan aneka perubahan seperti pada masa Romanticism, style dilekatkan
pada bentuk bahasa tertulis, tidak pada bahasa lisan dan saat itu populer
disebut stylos. Stilistika terus berkembang pada abad-abad selanjutnya
dengan aneka konsep baru yang dipengaruhi dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh
seperti Ferdinand de Saussure, Charles Bally, hingga Jakobson. Akan tetapi
konsep stilistika ini masih terpaku pada bahasa tertulis dan kaidah bahasa.

Lihat juga:  MAKALAH TENTANG SOSIOLOGI DAN SEJARAH PENDIDIKAN SOSIOLOGI

Pun mengalami perkembangan dari masa
ke masa, sampai saat ini stilistika masih banyak dianggap memfokuskan pada bahasa
yang tidak jauh dari teori stilistika De Saussure mengenai langue dan parole
 hingga Jakobson dengan enam elemen pentingnya; addresser – context
code contact message – addresseez. Analisis pada kaidah bahasa juga tidak
hanya dilihat pada nilai estetika atau pesan yang dibawanya, tetapi juga
mengenai adanya deviasi. Deviasi sendiri
disebabkan oleh banyak faktor mulai dari faktor manusia (penulisnya) hingga
faktor budaya lingkungan tempat ia berada. Hal seperti ini pernah disampaikan
oleh Teew (1984) yang menyebut bahwa pada jaman modern stilistika seringkali
memperlihatkan persamaan dengan retorika, tetapi tanpa aspek normatifnya;
stilistika, ilmu gaya bahasa, juga diberi definisi yang bermacam-macam, tetapi
pada prinsipnya selalu meneliti pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang
merupakan ciri khas seorang penulis, aliran sastra dan lain-lain, atau pula
yang menyimpang dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa yang dianggap normal,
baku dan lain-lain.

Pemahaman mengenai cakupan
stilistika pada gaya bahasa biasa juga disebut sebagai stilistika verbal yang
kemudian dianggap oleh sebagian besar orang hanya dapat diterapkan pada karya
beragam puisi (yang paling banyak bermain dengan diksi dan tata bahasa).

BAB III

PENUTUP

2.1.Kesimpulan

Sebelum mengalami perkembangan dan
perluasan seperti pada masa kini, stilistika sebagai sebuah bagian dari
linguistik telah disepakati memiliki kaitan yang sangat erat dengan sastra.
Sudjiman (1993: 3) menyebut bahwa sesungguhnya sumbangan linguistik dalam
kritik sastra ialah, misalnya, sorotan pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa
sebagai unsur yang membangun karya sastra, pengunaan dialek dan register
tertentu.

2.2.Saran

Kami menyadari bahwa
masih banyak kekurangan yang mendasar pada pembuatan makalah ini. Oleh karena
itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat
membangun kami. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan masyarakat pada umumnya. 

Advertisements