CONTOH TUGAS MAKALAH PENGERTIAN FILSAFAT


Filsafat  berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling
dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan
sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal. Jadi kami merasa ilmu filsafat
ini ilmu yang tinggi yang tentu juga perlu pemahaman tinggi untuk memahaminya. Selamat  membaca….!!!!

Tugas Makalah

PENGERTIAN
FILSAFAT





OLEH:

KELOMPOK I

ANDI FADLIYA

APRIANTI

SAFRIANTI

IRFAN MUHDAR

ISBUL ANSARI

FAKULTAS ILMU BUDAYA

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2015

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat membuat
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami
membahas mengenai “Pengertian Filsafat”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas yang telah diberikan oleh dosen pengampuh mata kuliah Filsafat Ilmu,
dimana dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak bantuan dari berbagai pihak
untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah
ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. 

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang
mendasar pada pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca
untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Akhir kata
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan masyarakat pada
umumnya. 

Kendari, 13 April 2015

Penulis 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar
belakang

             Filasafat menjadi sebuah ilmu yang
pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu
spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa
berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya
tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang
mempertanyakan segala hal.

             Filsafat adalah pandangan hidup
seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan
yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan

             Filsafat juga tentang seluruh
fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam
konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen
dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis,
mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk
solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses
dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika
bahasa.

Lihat juga:  KELEBIHAN DAN KEUNGGULAN PRODI SASTRA INDONESIA

             Filsafat juga dapat diartikan
sebagai suatu cara berpikir dan mersa sedalam-dalamnya terhadap segala sesuatu.
Filsafat juga melakukan hubungan erat dengan penyelidikan terhadap nilai atau
martabat dan tindakan manusia. Tidak hanya itu, filsafat juga menelaah hal-hal
yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak, mendalam tapi tidak berubah.
Karena begitu luasnya kajian filsafat, maka kami mencoba mengangkat dan mengertikan
filsafat dalam bentuk makalah

1.2.Rumusan masalah

1.      Apakah pengertian filsafat?

2.      Mengapa manusia harus berfilsafat?

3.      Bagaimana
peranan filsafat ilmu?

1.3.Tujuan

1.      Untuk
mengetahui pengertian filsafat?

2.      Untuk
mengetahui kenapa manusia harus berfilsafat

3.      Untuk
mengetahui bagaimana peranan filsafat ilmu

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Filsafat

            Apakah
filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan pertama yang kita
hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah “filsafat”
dapat ditinjau dari dua segi, yakni: · Segi semantik: perkataan filsafat
berasal dari bahasa Arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa Yunani,
‘philosophia’, yang berarti ‘philos’ = cinta, suka (loving), dan ‘sophia’ =
pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi ‘philosophia’ berarti cinta kepada
kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat
akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut
‘philosopher’, dalam bahasa Arabnya ‘failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah
orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain,
mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

            Filsafat adalah pandangan hidup
seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan
yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang
sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin
melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

            Dilihat
dari pengertian praktisnya, filsafat bererti ‘alam pikiran’ atau ‘alam
berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir bererti berfilsafat.
Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah
semboyan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Semboyan
ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan
itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf
hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh
dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari
dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain:
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran
segala sesuatu.

Lihat juga:  KUMPULAN TUGAS MAKALAH SEKOLAH DAN KULIAH: DEFENISI DAN MAKNA SASTRA

            Beberapa
definisi Kerana luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak
mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara
berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat
dan Timur di bawah ini: · Plato (427SM – 347SM) seorang filsuf Yunani yang
termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan
tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang
asli). · Aristoteles (384 SM – 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat
menyelidiki sebab dan asas segala benda). Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM)
politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan
tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya. · Al-Farabi
(meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan :
Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki
hakikat yang sebenarnya. · Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut
raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala
pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:


apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)


apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)


sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi) ·

Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar
psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir
radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang
hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat
berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal. Drs H.
Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala
sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga
dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah
mencapai pengetahuan itu.

2.1. Mengapa Manusia
Berfilsafat

          Apabila seseorang bertanya tentang
sesuatu, maka sebenarnya dia sudah berfilsafat, karena bertanya berarti ingin
tahu dan keingintahuan itu merupakan esensi dari filsafat. Akan tetapi
pertanyaan kefilsafatan yang sesungguhnya adalah pertanyaan yang sangat
mendalam dan serius. Pertanyaan kefilsatan memerlukan jawaban yang hakiki, dan
setelah mendapatkan jawaban, apabila meragukan maka jawaban itu akan
dipertanyakan kembali untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam (hakiki).
Jadi filsafat adalah upaya pemikiran dan penyelidikan secara mendalam atau
radikal (sampai ke akar persoalan).

Lihat juga:  “PUISI & PROSA SERTA UNSURNYA”

          Dengan demikian pertanyaan filsuf
tidaklah sembarangan. Oleh karena itu pertanyaan seperti apa rasa gula tidak
akan melahirkan filsafat, sebab hal itu bisa dijawab dengan mudah oleh lidah
atau berapa tahun durian dapat berbuah juga tidak melahirkan filsafat, karena
dapat dijawab oleh sains dengan melalui riset (penelitian). Contoh pertanyaan
kefilsafatan adalah seperti diutarakan oleh Thales, “apakah bahan alam semesta
ini?”. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sembarangan, karena yang
dipertanyakan adalah masalah esensi atau hakikat alam semesta. Jadi perlu
pemikiran dan penyelidikan yang mendalam (radikal).

          Pancaindera jelas tidak mampu menjawab
pertanyaan tersebut, sebab pancaindera hanya sekedar menyaksikan benda alam
yang ada secara lahiriyah. Sains juga tidak sanggup menjawab, karena hanya
menyelidiki secara empiris benda yang ada. Tetapi filsafat mampu mengungkapkan
jawaban yang lumayan dapat memuaskan. Seperti jawaban dari Thales sendiri bahwa
bahan alam semesta adalah air, dengan alasan bahwa air itu dapat berubah
menjadi berbagai wujud. Jika air dimasukkan ke dalam ember maka dia akan
membentuk seperti ember, dst. Selain itu air amat dibutuhkan dalam kehidupan,
bahkan bumi ini menurutnya terapung di atas air.

          Pertanyaan tersebut pertamakali muncul
pada zaman permulaan (Yunani Kuno), yang dilatarbelakangi oleh keta’juban
(keheranan) terhadap alam semesta. Ketakjuban ini menurut Jan Hendrik Rapar
(2001 : 16) menunjuk kepada dua hal penting, yaitu subyek dan obyek. Jika ada
ketakjuban pasti ada yang takjub (subyek) dan yang menakjubkan (obyek). Subyek
ketakjuban adalah manusia, sebab manusia satu-satunya makhluk yang memiliki
perasaan dan akal budi. Hal ini karena ketakjuban hanya dapat dirasakan dan
dialami oleh makhluk yang berperasaan dan berakal budi. Adapun obyek ketakjuban
adalah segala sesuatu yang ada, baik di alam nyata maupun di alam metafisik
(abstrak).

Lihat juga:  KUMPULAN TUGAS MAKALAH SEKOLAH DAN KULIAH: HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN

          Selain ketakjuban, yang mendorong
manusia berfilsafat adalah karena adanya aporia (kesangsian, keraguan,
ketidakpastian atau kebingungan). Pertanyaan yang timbul akibat aporia ini
menurut Ahmad Tafsir muncul di zaman modern. Aporia ini berada di antara
percaya dan tidak percaya. Ketika manusia bersikap percaya atau mengambil tidak
percaya, maka pikiran tidak lagi bekerja atas hal itu, akan tetapi jika dia
berada antara percaya dan tidak percaya maka pikiran mulai bergerak dan
berjalan untuk mencari kepastian. Sangsi atau keraguan akan menimbulkan
pertanyaan, pertanyaan membuat pikiran bekerja, dan pikiran bekerja akan
melahirkan filsafat.

          Jadi sikap keingintahuan atau ingin
kepastian terhadap sesuatu dapat melahirkan filsafat. Ada juga yang mengatakan
bahwa filsafat dilahirkan atas dasar adanya ketidakpuasan. Sebelum filsafat
lahir, berbagai mitos memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Mitos
tersebut beupaya memberikan penjelasan terhadap manusia tentang asal mula dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta, akan tetapi penjelasan dan
keterangan tersebut makin lama semakin tidak memuaskan manusia. Mitos tersebut
antara lain membawa ajaran bahwa alam semesta beserta fenomina yang ada tidak
mungkin dapat dipikirkan secara ratio, akan tetapi harus diterima secara intuisi
(perasaan dan keimanan).

          Mereka ketika itu sangat meyakini
ajaran agama (Dewa). Jawaban yang diberikan oleh Thales (mendapat gelar bapak
filsafat, karena dianggap orang yang pertama kali berfilsafat) bahwa bahan baku
alam semesta alam air, jelas tidak diterima oleh dogmatis atau mitos ketika
itu. Dalam hal ini Henri Bergson (penganut intuitisme) mengatakan bahwa akal
sangat terbatas. Akal hanya memapu menjangkau atau memahami suatu obyek apabila
mengkonsentrasi-kan kepada obyek tersebut. Ketika itu maka manusia harus tunduk
kepada intuisi.

2.3. Bagaimana Peranan Filsafat Ilmu

          Filsafat
ilmu merupakan sebuah disiplin ilmu penegetahuan, dalam hal ini filsafat ilmu
berperan sebagai pengkajian berbagai hakikat keilmuan, dalam mengembangkan
berbagai ilmu pengetahuan filsafat ilmu mempunyai beberapa macam cara di
antaranya yaitu: · Ontologi · Terminologi · Aksiologi.

          Dari beberapa cara tersebut masing –
masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda ontologi berfungsi untuk
mengetahui apa yang dikaji dalam pengetahuan tersebut, sedangkan terminolgi
berfugsi untuk mengetahui bagaimana kita memproleh ilmu pengetahuan tersebut,
dan yang terakhir aksiologi berfungsi untuk mengetahui bagaimana hakikat ilmu
pengetahuan tersebut.

Lihat juga:  Tugas Kepala Sekolah Terbaru

          Manusia dengean segenap kemampuan
kemanusiaannya seperti perasaan, pengalaman, panca indra dan intuisi mampu menangkap
alam kehidupannya mengabtrasikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam
berbagai ilmu pengetahuan seperti kebiasaan , akal sehat , seni, sejarah dan
filsafat. Terminology ilmu pengetahuan ini ini adalah atrifical yang bersifat
sementara sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sabagai
keseluruhan bentuk dari prodok kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui
sesuatu , dalam bahasa inggris cara memproleh pengetahuan ini dinamakan dengan
knowledge.

BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Pada tahap
awal kelahiran filsafat sesungguhnya mencakup seluruh ilmu pengetahuan,
kamudian berkembang sedemikian rupa menjadi semakin rasional dan sistematis.
Seiring dengan perkembangan itu, wilayah pengetahuan manusia semakin luas dan
bertambah banyak, tetapi juga semakin mengkhusus atau spesifik. Lalu lahirlah
berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang satu persatu mulai memisahkan diri dari
filsafat. Namun kendati pun demikian, tidak berarti filsafat telah menjadi
begitu miskin sehingga tinggal terarah hanya kepada satu permasalahan pokok,
dengan wilayah pengetahuan yang semakin sempit dan pada suatu saat akan lenyap
sama sekali.

Kenyataannya,
masalah-masalah pokok yang dihadapi filsafat tak pernah berkurang. Karena
banyaknya masalah pokok yang harus dibahas dan dipecahkan, diantara tugas
filsafat antara lain termasuk melaksanakan pemikiran rasional analisis dan
teoritis (bahkan spekulatif) secara mendalam dan mendasar melalui proses
pemikiran yang sistematis, logis, dan radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema
hidup dan kehidupan manusia.

3.2.Saran

Filasafat
menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping
nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan
ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling
dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan
sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal. Jadi kami merasa ilmu filsafat
ini ilmu yang tinggi yang tentu juga perlu pemahaman tinggi untuk memahaminya. Jika
ada kesalahan atau ketidaksamaan pendapat dalam makalah ini, pembaca dapat
memberikan masukan atau kritikan yang membangun pada kami.

DAFTAR PUSTAKA

-pengertian-filsafat-dan.html. diakses
pada tanggal 12 April 2015