Kisah Thalhah bin Ubaidillah, target utusan dalam perang Uhud

Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang turut serta dalam perang Uhud. Ia menjadi target utusan kaum kafir Quraisy karena keberaniannya dalam melindungi Nabi dan bertarung dengan gigih. Kisah heroik Thalhah menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan dan perjuangan yang berat.

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, target utusan dalam perang Uhud

Kisah Thalhah bin Ubaidillah tentang julukannya sebagai elang di hari uhud menceritakan peran besar dalam perlindungan Rasulullah ketika dalam perang Uhud.

Thalhah bin Ubaidillah adalah salah satu sahabat Nabi dari suku Quraisy yang termasuk Seperti Sabiqunal Al-Awwalun atau mereka yang pertama kali masuk Islam.

Atau satu kisah Thalhah bin Ubaidillah Apa yang begitu terkenal tentang anugerah waktu yang luar biasa? dalam perang Uhud akan selesai

Thalhah begitu heroik karena melihat Nabi sebagai tameng perang hingga tubuhnya diserang panah dan senjata perang lainnya.

Memiliki pribadi yang begitu dermawan dan juga hati yang dermawan, inilah kisah yang penuh dengan Talha!

Kisah Thalhah bin Ubaidillah, memeluk Islam

Dilihat dari keturunan Thalhah, garisnya adalah Thalhah bin Ubaidillah bin Ustman bin Amru bin Ka’ab sampai Ka’ab bin Lu’ai.

Ibunya bernama Ash-Sha’bah binti Al-Hadrami akhirnya juga memeluk Islam dan menjadi bagian dari komunitas Muslim.

Sementara itu, inilah kisah selengkapnya hingga Thalhah kemudian memutuskan memeluk Islam;

Lihat juga:  Cara Menurunkan Panas Pada Anak Alami

1. Awal Profesi Sebagai Pedagang

Thalhah bin Ubaidillah adalah seorang pemuda Quraisy yang ingin mengamalkan dagangannya sebagai sebuah profesi.

Meski masih muda, ia memiliki keunggulan kepintaran dan kepintaran dalam menyusun strategi untuk mengalahkan pengusaha yang lebih tua.

Suatu hari rombongan Thalhah bin Ubaidillah pergi ke Syam untuk urusan bisnis.

Sesampainya di Bushra, pemuda ini kemudian mengalami kejadian menarik yang akhirnya menjadi titik balik dalam hidupnya.

2. Pidato Pendeta Bushra Menggetarkan Talhah

Ketika Thalhah berada di Bushra, ada seorang pendeta yang berteriak di tengah-tengah para saudagar disana: “Wahai para saudagar, apakah kalian ada yang dari Mekkah?”

Ketika dia menemukan itu, Talah berkata: “Saya juga salah satu dari Makkah.”

Kebetulan pendeta itu laki-laki. Mendapat jawaban dari Thalhah, dia bertanya: “Apakah ada yang bernama Ahmad muncul di antara kamu?” Thalhah menjawab: Ahmad yang mana?

Pendeta menjawab nama lengkap Nabi dan arti kata-katanya. “Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini akan muncul nabi yang merupakan penutup dari nabi-nabi sebelumnya.

Kemudian pendeta melanjutkan: “Suatu ketika, bebatuan hitam dan banyak pohon kurma akan bermigrasi dari tanahmu ke desa. Dan itu akan melewati tanah yang subur dan subur, mengirimkan air dan garam.

“Nah, pemuda itu langsung bertemu,” kata pendeta menutup kalimatnya. Suara yang tidak biasa ini langsung menancap di hati Talha dan mengganggu pikirannya.

3. Kisah Thalhah bin Ubaidillah masuk Islam

Terganggu dengan perkataan pendeta Bushra, Thalhah segera kembali ke Makkah, tanpa terlebih dahulu memperhatikan para pedagang keliling di pasar. Ketika dia tiba, dia bertanya kepada keluarganya, “Apakah akan terjadi sesuatu selama saya pergi?”

Mereka berkata kepadanya: Ya. Muhammad bin Abdullah menyatakan bahwa dia adalah pengikut dekat Nabi dan Abu Bakar Ash-Siddiq dan mempercayai apa yang dikatakannya.”

Lihat juga:  Cara Mengobati Mata Silinder Secara Alami Dan Cepat

Thalhah terkejut mengetahui siapa Abu Bakar. Dia bergumam, “Saya kenal Abu Bakar. Dia adalah pria yang sangat penyayang, murah hati, dan lembut. Dia juga seorang pedagang yang kuat dan berbudi luhur.

“Keduanya adalah teman baik, tentu saja, dan ada banyak jemaahnya.” Karena salah satu penulis Quraisy “Talhah tetap tinggal. Setelah itu dia segera bertanya kepada Abu Bakar kemana dia akan menanyakan tentang dia.

Abu Bakar membenarkan pendapat Thalhah. Setelah itu beliau menceritakan kisah Nabi dari gua Hira hingga turunnya ayat pertama.

Setelah Abu Bakar selesai bercerita, Thalhah kembali menceritakan tentang peristiwa imam di Bushra yang membuat Abu Bakar terheran-heran.

Abu Bakar pun memanggil Thalhah untuk menemui Nabi SAM dan menceritakan hal-hal yang terjadi pada Thalhah. Thalhah pun mengeluarkan Syahadat di hadapan Rasulullah SAW dan memeluk Islam sejak saat itu hingga akhir hayatnya.

4. Keputusan Thalhah memeluk Islam

Karena masih sangat ditentang oleh kaum kafir Quraisy, peristiwa masuknya Talha ke Islam mengejutkan seluruh keluarganya. Orang-orang dari satu suku dan keluarga berusaha mengusir Talha dari pulau itu.

Awalnya mereka menggunakan cara-cara halus, tentu saja mengelabui Talha agar tidak bisa melanjutkan pendapatnya. Namun karena sikap Talha yang begitu tegas, akhirnya mereka bersikap kasar terhadap pemuda tersebut.

Tubuh Talhae juga diterima oleh meriam demi meriam. Tubuh pemuda itu terjerat dengan tangan di leher. Saat mereka mengganggu, mereka memukul, dan memukul kepala.

Mirisnya juga ada seorang perempuan yang terus menerus menangis dan mencaci Thalhah, yang tidak lain adalah ibunya, yaitu Ash-Sha’bah. Kisah Thalhah bin Ubaidillah itu sangat serius bahkan ketika dia pertama kali memeluk Islam.

Lihat juga:  Cara Alami Mengobati Radang Amandel

Tak berhenti sampai di situ, pernah seorang pria Quraisy bernama Naufal bin Khuwailid menggambar Talhah dan Abu Bakar. Dan dia mengikat dan mendorong kedua orang yang terikat itu ke penusuk sampai tubuh mereka berdua berdarah.

Ini memberi Thalhah dan Abu Bakar gelar Al-Qarinain (sepasang bangsawan).

Sementara itu, perjuangan Talhaa untuk mempertahankan imannya dan memperjuangkan Islam terus berlanjut hingga ia juga bergelar sarjana Abu Syahidul Hayy.

Narasi Thalhah bin Ubaidillah sebagai tameng Nabi

Kisah Thalhah yang begitu ikonik terjadi saat perang Uhud. Perang Uhud sendiri merupakan perang berikutnya, setelah kaum Quraisy kalah dalam perang Badar sebelumnya. Hingga gara-gara itu, amarah mereka berkobar sebagai balas dendam atas kekalahan sebelumnya.

Meski begitu tentara Muslim akan menang, jika pemanah di gunung telah mendengar perintah nabi untuk tetap berjaga-jaga. Di tempat-tempat miring di atas bukit untuk mengumpulkan rampasan perang.

Karena kebutuhan Thalhah bin Ubaidillah dari kaum Muhajirin, maka 11 orang Ansar membela Rasulullah untuk membawanya ke puncak bukit.

Sayangnya, karena posisinya terbalik dan kaum muslimin kemudian terdesak, banyak rintangan di sepanjang jalan dari pihak musuh.

Satu persatu kaum Ansar bersama Thalhah melarikan diri ke Gunung Apostol.

Dia memeluk Rasulullah dengan tangan kiri dan dadanya, lalu memutar pedang di tangan kanannya ke segala arah untuk menangkis panah yang masuk.

Dia juga dengan keras mencambuk pedang ke pedang musuh, terlepas dari tubuh, dipukul dengan pukulan pedang dan panah. Secara total, sekitar 70 anak panah tertancap di tubuh Talha bersama dengan jari yang putus.

Karena itu dia mendapat nama itu Abu Shahidu Hayyu atau satu orang martir hidup karena itu banyak yang berpikir bahwa Thalhah telah mati syahid, padahal sebenarnya dia masih hidup.

Lihat juga:  Cara Mengobati Ambeien Pada Ikan Louhan

Kematian Thalhah bin Ubaidillah

Kisah Thalhah bin Ubaidillah Itu berakhir dengan kematian Jamal dalam perang. Usai pertempuran, Ali bin Abi Thalib memerintahkan Thalhah untuk turun.

Perang ini sendiri terjadi karena adanya keserentakan antara pendirian Ali bin Abi Thalib dengan pembunuhan Utsman. Sedangkan Thalhah bin Ubaidillah berada di seberang Ali.

Thalhah keluar dari ketentaraan, ketika teringat perkataan Rasul, orang yang memerangi Ali adalah pelaku kejahatan

Sampai anak panah Talhae mengenai betis. Karena lukanya terlalu kuat, dia akhirnya meninggal di usia 60 tahun. Jenazah Thalhah bin Ubaidillah dimakamkan di sebuah tempat dekat padang rumput Basra.

Nabi sendiri pernah berkata kepada para sahabatnya tentang Thalhah bin Ubaidillah, “Orang ini termasuk orang yang tumbang.” Dan barangsiapa yang senang melihat seorang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah.

Makna perkataan Rasul tersebut merujuk pada masa Thalhah yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk cambuk Nabi di perang Uhud. Rasulullah sendiri saat itu juga terluka parah dengan gigi taring patah dan bibir serta dahi robek.

Thalhah yang dipenuhi anak panah yang menancap, pedang dan anak panah memotong luka di jari-jarinya, memang dia berusaha bertahan sampai akhir pesan Allah bahwa dia harus dilindungi.

Thalhah bin Ubaidillah Liberal dan Liberal

Selain mendapatkan gelar Ash-Shahidu Hayyu Thalhah juga diperoleh melalui gelar Talah Al-Jaud (Thalhah Liberal) lalu Talah Al-Fayyadh atau Thalhah sang dermawan. Gelar ini diberikan langsung oleh Nabi Itu akan menjadi Allahu ‘alaihi wa sallam.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Thalhah bin Ubaidillah memiliki bakat dan naluri berdagang yang kuat ketika masih muda. Karena keahliannya, ia dikenal sebagai pebisnis ahli yang masuk dalam jajaran pebisnis sukses dan kaya raya.

Lihat juga:  Bagaimana Cara Mewarnai Rambut Secara Alami

Salah seorang sahabat Nabi yaitu Said bin Zaid pernah mengatakan bahwa Thalhah adalah seorang yang sangat dermawan. Tidak ada yang memberi pakaian, kekayaan, dan makanan untuk Talha.

Kisah Thalhah bin Ubaidillah dan 700.000 Dirham

Thalhah bin Ubaidillah adalah sosok yang dikenal tegas, jujur, dan dermawan. Sejak awal memeluk Islam, beliau tidak pernah mengingkari janji dan kedermawanannya, dalam sejarah 700.000 drachma yang akan disebutkan di bawah ini.

Suatu kali dia pulang dengan untung besar dari perdagangan, yaitu 700.000 drachma. Namun setelah itu Thalhah tidak bisa tidur karena suatu hal karena merasa cemas dan gelisah.

Melihat hal tersebut, istri Thalhah bingung dan bertanya apa yang terjadi dan bertanya, “Kenapa gugup sekali, apakah saya melakukan kesalahan?”

Talha menjawab: “Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun, karena hanya saja ada sesuatu yang merasuki pikiranku.” Pikiran hamba terganggu, karena di rumahnya terdapat harta yang menumpuk.

Istri Thalhah menjawab: “Kenapa kamu begitu khawatir, bukankah masih banyak yang membutuhkan pertolongan melalui kamu?” Tapi dia berkata: “Bagikan saja uangnya besok kepada mereka yang membutuhkan.”

Talhah senang sekali mendapatkan jawaban bijak dari istrinya. Dia berkata: “Semoga Tuhan selalu mengasihani kamu.” Sungguh, kamu adalah wanita yang menerima rahmat Tuhan.

Keesokan harinya, Talhah Muhajirin dan Ansar membagikan uang kepada fakir miskin. Meskipun dia memperoleh dari pekerjaannya, dia tidak merasa berhak untuk mempertahankannya.

Thalhah bin Ubaidillah adalah salah satu sahabat Nabi yang diutus sebagai target utama dalam perang Uhud. Dalam pertempuran tersebut, Thalhah kehilangan kakinya namun tetap berjuang sampai akhir hayatnya. Kisah keberanian Thalhah menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk selalu berjuang dalam menghadapi tantangan kehidupan. Semoga kisah ini dapat menjadi teladan bagi kita semua.

Temukan artikel menarik lainnya di Google News

#Kisah #Thalhah #bin #Ubaidillah #target #utusan #dalam #perang #Uhud arbo Kisah Thalhah bin Ubaidillah, target utusan dalam perang Uhud