Kisah Soeharto dan sepeda motor peninggalan penjajah Jepang

Kisah Soeharto dan sepeda motor peninggalan penjajah Jepang

Arbo.web.id -Kemerdekaan Indonesia merupakan ikhtiar dengan model kolektivisme. Seluruh Nusantara berjuang dengan caranya sendiri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Soeharto, Misalnya. Mantan prajurit KNIL dan PETA itu dipanggil untuk membela Indonesia dalam Perang Revolusi di Yogyakarta.

Soeharto dan kawan-kawan bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dia bertugas melucuti senjata dan kendaraan milik penjajah Jepang. Motor rusak, apalagi. Sepeda motor itu kemudian diperbaiki untuk tujuan pertempuran

Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan momen bersejarah bagi masyarakat adat. Gaung paripurna kemerdekaan Indonesia menyebar ke mana-mana. Seluruh nusantara pun menyambutnya dengan suka cita. Namun, tidak bagi Belanda.

The Mill Country menganggap kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II sebagai kunci perbudakan kembali penduduk asli. Rencana Belanda sampai ke telinga semua pejuang kemerdekaan. Suharto (kemudian dikenal sebagai Presiden ke-2 Indonesia), esp.

Lihat juga:  Panduan Menggunakan iOS Terbaru di iPhone dan iPad

Menginginkan Soeharto untuk membela bangsa dan negara segera mencapai puncak. Ia pun berusaha mengumpulkan teman-temannya yang merupakan bekas tentara zaman penjajahan Belanda dan Jepang di Yogyakarta. Dari mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) hingga Pembela Dalam Negeri (PETA).

Letkol. Soeharto memberikan laporan kepada Sri Paku Alam VIII tentang latihan perang yang telah selesai pada tahun 1949. (ANRI/IPPHOS)

Awal berjalan lancar. Sebab, semuanya memiliki semangat yang sama dengan Soeharto. Kemudian mereka mendirikan kelompok yang kemudian bertugas di BKR. Kekuasaan ini membuat Soeharto dan kawan-kawan bertugas menjaga keamanan dan ketertiban dalam negeri.

“Kemudian, inisiatif saya keluar untuk mengumpulkan teman-teman mantan PETA. Kebetulan semua teman itu tinggal tidak jauh. Saya bertemu Oni ​​Sastroatmodjo, Komandan Khusus Kompi Polisi, dan bersamanya saya mengumpulkan mantan Chudancho (komandan kompi) dan Shodancho (prajurit berpendidikan tinggi). Kami para mantan PETA dan sejumlah anak muda lainnya berkumpul. Kami berhasil membentuk kelompok yang kemudian menjadi (bagian dari) anggota BKR.”

Lihat juga:  5 Inspirasi Menu Sahur Praktis yang Tetap Enak untuk Puasa Ramadhan

“Itu, pembentukannya diumumkan oleh pemerintah Indonesia. Presiden Soekarno memanggil mantan PETA, mantan Heiho (pasukan bantu), mantan Kaigun (angkatan laut), mantan KNIL dan pemuda lainnya untuk segera bersatu dan mendirikan BKR-BKR di tempat masing-masing. Seruan Bung Karno bukanlah sesuatu yang baru bagi kami. Kami bergerak sejalan dengan seruan ini,” ujar Soeharto, seperti ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH dalam buku Suharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakanku (1989).

Bangkai Sepeda Motor Rusak di Jepang

Perjuangan Soeharto di BKR penuh pengorbanan. Ia mencurahkan waktu dan tenaganya untuk melawan Belanda dalam Perang Revolusi (1945-1949). Namun, untuk menjaga keamanan dan ketertiban, BKR membutuhkan senjata dan kendaraan dalam jumlah besar.

Lihat juga:  Yuk Simak: 50 Salam Ramadhan untuk Orang Terkasih

Suharto dan kawan-kawan menaruh mayat di situ. Ia berinisiatif menyita senjata dan kendaraan milik tentara Jepang yang masih berada di Yogyakarta. Upaya perlawanan dilakukan dengan cukup sengit. Terkadang pertempuran pecah dan merenggut nyawa. Akibatnya, penyerangan tersebut menyebabkan Soeharto mengambil banyak senjata dan kendaraan.

Namun, tidak semua kendaraan – terutama sepeda motor asal Jepang – dapat bekerja dengan normal. Beberapa sepeda motor dalam keadaan rusak alias rusak. Soeharto itu tidak mengganggu. Ia berinisiatif membenahi sepedanya agar bisa berjalan lagi.

Lihat juga:  Tips Menjaga Hubungan dengan Pacar Jarak Jauh

Yang istimewa adalah beberapa motor berhasil dihidupkan. Soeharto dan kawan-kawan mampu menggunakan sepeda motor sebagai alat perjuangan. Meski terkadang sepeda motor digunakan untuk berkeliling Yogyakarta.

Sejak saat itu Soeharto lebih memilih menggunakan sepeda motor. Dari hal-hal sehari-hari hingga hal-hal yang menyerang. Dalam pendudukan lapangan terbang Maguwo, misalnya. Semua pasukan Soeharto kemudian berangkat dengan truk. Sedangkan Soeharto sendiri menggunakan sepeda motor.

Letkol. Soeharto dan Sri Paku Alam VIII duduk bersama menyaksikan latihan perang memperingati Hari Pahlawan 1949. (ANRI/IIPHOS)

Dengan sepeda motor dia bisa memberi perintah untuk menyerang pasukan Jepang di bandara. Aksi heroik yang bertepatan dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang ini membuahkan hasil. Pasukan Soeharto (yang kemudian menjadi Batalyon X) mampu menguasai Maguwo dan mampu melucuti semua senjata Jepang, termasuk beberapa pesawat.

Lihat juga:  Menemukan Pola Beda Barisan Aritmatika

Favorit Soeharto Penggunaan sepeda motor juga diakui oleh banyak orang. Des Alwi yang dikenal sebagai anak angkat Sutan Sjahrir juga melihatnya. Ia bahkan menganggap Soeharto sebagai pengendara motor dan petarung sejati.

“Ada seorang pejuang muda yang menarik perhatian saya ketika dia tinggal di Pathuk (Yogyakarta). Ya, itu Soeharto, orang yang tidak banyak bicara. Ia cerdas, kalem, namun dengan wajah yang tampan sangat mudah menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

“Kami sering makan tongseng bersama. Saya juga melihat pemuda Soeharto dan temannya sedang memperbaiki sepeda motor yang dirusak oleh militer Jepang. Setelah sepeda motor jalan, mereka berdua mengayuhnya mengitari Pathuk,” ujar Des Alwi dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2011).

Advertisements